Saturday, December 24, 2011

Menikmati Wreckship USS Liberty di Tulamben

Pesawat Garuda Indonesia yang kami tumpangi mendarat mulus di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali pukul 23.00 WITA, telat 1 jam dari yang dijadwalkan. Mobil yang kami sewa sudah menunggu di pelataran parkir bandara, setelah serah terima kunci dan melakukan pengecekan kondisi mobil, kemudi setir pun saya arahkan ke kawasan Legian. Selamat datang Bali, ujar saya dalam hati saat itu.


Tujuan kami malam itu adalah Apache, sebuah bar yang terletak di kawasan Legian, agak jengah sebenarnya ke kawasan ini, karena keramaiannya, terlebih saat itu adalah malam Sabtu. Disaat klub-klub di sepanjang kawasan Legian memutarkan musik kencang mengajak para turis untuk masuk ke klubnya dan ikut bergoyang mengikuti irama musik. Tua muda, lokal mancanegara berbaur menjadi satu di sepanjang Jalan Legian, seolah tidak ada perbedaan kultur antara golongan tersebut.

Cukup lama tertahan pada macet Jalan Legian, akhirnya kami sampai di Apache, Nicole, seorang teman kami dari Jerman sudah menunggu kami dalam acara perpisahannya sebelum kembali ke Jerman. Sudah ada beberapa teman Nicole yang bergabung bersama kami saat itu.

Tidak lama menghabiskan waktu bersama Nicole di Apache, jam setengah 2 pagi kami memutuskan untuk memulai perjalanan kami menuju bagian Utara Bali, Tulamben. Budi duduk di bangku sebelah saya, berbekal dengan peta Bali yang kami beli sebelumnya dan GPS seadanya dari Blackberry Budi, mobil kami pacu kencang agar lebih cepat sampai Tulamben.

Beruntung kami tidak tersasar, peta Bali yang kami miliki rupanya cukup akurat dalam menunjukkan jalan. Dua jam kemudian kami sudah sampai di Candi Dasa, rasa kantuk menghinggapi saya yang menyetir, mobil saya pinggirkan ke sebuah minimarket 24 jam di dekat Candi Dasa, dengan maksud agar saya dapat tidur sebentar.

Kurang lebih 1 jam saya tertidur, sebelum terbangun dan melanjutkan perjalanan kembali. Budi, Enda, dan Mila kebetulan tidak ada yang bisa menyetir mobil, jadi hanya mengandalkan saya yang menyetir.

Selang satu jam, mobil kami sudah memasuki kawasan Tulamben, suasana pagi itu sangat sepi, hanya beberapa kendaraan yang hilir mudik kami jumpai. Kawasan ini dipenuhi oleh dive shop, terlihat dari papan namanya yang bertengger di sepanjang jalan. Mata kami mencari sebuah papan nama bertuliskan Tauch Terminal, yang akan menjadi tempat saya dan Enda diving.

Tempat yang kami cari ternyata tidak berada pada jalan utama, namun di jalan mengarah ke pantai. Jam 5 pagi, akhirnya kami sampai di Tauch Terminal Resort & Spa, tempat kami akan melakukan diving di Tulamben. Resort ini cukup bagus, saya mendapatkan referensi tempat ini dari seorang teman yang bekerja di Tauch Terminal diving sebelumnya. Lokasinya pun sangat strategis, tidak berada jauh dari wreckship USS Liberty yang sangat terkenal itu, dan juga tidak jauh dari coral garden, salah satu spot diving disana. Budi dan Mila tidak diving, karena mereka belum memiliki diving license.

“Halo selamat datang, nanti kita mulai diving jam 7 pagi ya, sebelumnya kita akan briefing dulu”, sapa seorang pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Gede.

Kami pun memilih peralatan diving yang akan kami gunakan, BCD, booties, wetsuit, dan fin. Setelah dirasa cukup, kami melakukan briefing dengan Bli Gede mengenai spot diving kami.

USS Liberty ini sudah sangat rusak, tidak terlihat lg kondisi utuhnya, namun masih ada beberapa bagian yang dapat terlihat baik. Kapal mulai terlihat mulai kedalaman 8 – 40 meter”, jelas Bli Gede.


Kemudian, saya dan Enda menuju pinggir pantai. Karakter pantai di Tulamben adalah pantai dengan batuan kali yang kecil-kecil, sehingga agak sakit jika berjalan di pantai tanpa menggunakan alas kaki. Baru kali ini saya melakukan diving langsung dari bibir pantai, awalnya agak sulit karena harus memakai BCD dan fin di dalam air. Setelah BCD dan fin terpasang, kami segera beradaptasi dan orientasi sekeliling dan mulai memasuki dalam air. Perlahan menuju wreckship yang berada mulai pada kedalaman 8 meter, USS Liberty adalah kapal Amerika yang tenggelam setelah ditembak torpedo kapal Jepang saat Perang Dunia II. 

Kawanan Ikan di Tulamben

Kondisi wreckship saat ini telah menjadi rumah bagi coral dan ikan-ikan, ratusan ikan warna-warni hilir mudik di depan kami, walau sudah tidak nampak terlalu jelas, namun bentuk kapal masih terlihat, seperti adanya ruangan-ruangan dan panel yang tertutup karat. Bli Gede mengajak kami untuk masuk ke dalam kapal, namun Enda tidak berani, akhirnya kami hanya mengelilingi kapal yang cukup luar tersebut.

USS Liberty Wreckship
Salah Satu Bagian Wreckship


Bli Gede sesekali memberi isyarat jika melihat sosok yang menarik untuk kami lihat, kali itu Bli Gede memberi isyarat cepat kepada kami untuk segera melihat arah 45 derajat di atas kami, rupanya segerombolan ikan Barracuda sedang diam di atas kami, diam-diam saya memperhatikan dari bawah tanpa bisa mendekatinya, karena takut dengan barisan giginya yang tajam. Saat SPG menunjukkan angka 50 bar, perlahan kami mulai naik ke permukaan air dan selesai lah 1st diving kami, total waktu yang kami habiskan di bawah sekitar 50 menit.

Add caption


I'm Here..!!

Kami berisitirahat sejenak sebelum memulai sesi diving yang kedua, tak lama datanglah Ringgo, yang cukup terkenal sebagai artis dan diver, dia dan 2 temannya juga akan diving di Tulamben, Enda ternyata sudah janjian dengan Ringgo sebelumnya, mereka berteman sejak pergi bersama ke Festival Jailolo. 


Jam 11 saya dan Enda memulai sesi diving ke-2, kali ini kami diving di coral garden, kami harus memulai dari pinggir pantai lagi, kali ini kami sudah cukup terbiasa. Perlahan mulai turun ke kedalaman sekitar 15 meter, dan lanjut ke 20 meter, spesies yang terdapat disini cukup beragam, namun tidak seindah di wreck ship menurut saya, tapi saya cukup senang karena beberapa ikan yang belum pernah saya lihat sebelumnya, menampakkan dirinya disini. Sekitar 55 menit kami berkeliling di coral garden, sebelum mengakhiri penyelaman kami kali ini.



Fact Behind Story :

Sewa mobil (Avanza)             : Rp.150.000/hari
Diving                                   : Rp. 498.000/ 2x dive (EUR 40) disc.30% untuk lokal

No comments:

Post a Comment

My TripAdvisor