Sunday, November 6, 2011

Jepara - Semarang - Surabaya

Lihat Peta Lebih Besar

Ombak di perairan Pulau Jawa pun tak kunjung tenang, suasana Kota Jepara yang kecil pun terus-menerus turun hujan. Angin barat yang diprediksi akan membuat cuaca terus seperti ini akan berlangsung hingga awal Maret, sehingga untuk menunda perjalanan ke Karimun Jawa hingga minggu depan pun bagaikan bermain tebak-tebakan dengan alam.


Detik berganti cepat, memaksa kami mencari alternatif perjalanan sebagai pengganti perjalanan ke Karimun Jawa. Keputusan sudah bulat, bahkan alternatif perjalanan yang ditawarkan untuk menelusuri pantai selatan Jawa dari Yogyakarta hingga Pacitan dan perjalanan lain ke Bromo yang memang belum pernah saya kunjungi kami tolak.

Situasi Bromo yang pada saat itu pun tidak kondusif, sedang giatnya memancarkan abu vulkanik dan gempa tremor membuat kami berpikir bahwa perjalanan ke Bromo yang seharusnya menyenangkan, bisa saja sebaliknya.

LOMBOK! tiba-tiba kata itu terlintas di benak saya, suatu pulau yang menyimpan misteri keindahan alam yang juga belum saya kunjungi, tak ayal ide mengunjungi pulau itu tersentak langsung dari mulut yang kemudian juga langsung diiyakan dengan mantap oleh Difa.

Hari-hari terasa membosankan di Jepara, bukan karena kotanya yang memang cukup kecil dan relatif sepi baik di siang hari dan malam hari, tapi karena kami tidak banyak melakukan aktivitas apa-apa selama disana.

Beberapa kali mengunjungi Jepara, tapi tempat wisata yang saya tahu hanya Pantai Kartini dan Pantai Bandengan. Bermain air di Pantai Bandengan cukup menghibur, ada beberapa wahana yang bisa digunakan untuk pengunjung. Pada waktu tertentu saat ombak pantai tenang, pantai bisa digunakan untuk berenang, bermain kano, banana boat. Namun, ombak tidak kurang besarnya kali ini, sehingga penyewaan beberapa wahana ditiadakan untuk sore itu. Pantai terlihat sepi, hanya terlihat beberapa orang yang asik bermain sepakbola pantai dan beberapa pasangan yang duduk di sekitar pantai menyeruput kelapa muda sambil menunggu sunset yang sebentar lagi datang.
Pantai Bandengan

Valdo, keponakan saya tak berhenti merengek untuk menyewa ATV (All Terrain Vehicle) , yang memang juga tersedia di sekitar pantai. ATV ini tidak terlalu besar, merupakan modifikasi dari mesin pemotong rumput yang didesain sedemikian rupa, dengan harga sewa yang cukup murah, ATV bisa dibawa berkeliling cukup jauh.
Pantai Bandengan

Keesokan harinya adalah waktu untuk melanjutkan perjalanan dan berpindah kota ke Surabaya. Pilihan transportasi yang kami gunakan adalah kereta, di Jepara memang belum ada rute kereta yang melewati kota ini, stasiun terdekat adalah di Semarang yang berjarak 2 jam perjalanan dari Jepara.

Ada beberapa pilihan transportasi dari Jepara ke Semarang, bisa menaiki bis ukuran 3/4 yang hanya sampai sore, atau beberapa mobil travel yang melayani rute Jepara-Semarang. Kami pergi setelah senja, mengikuti jadwal terakhir keberangkatan mobil travel ke Semarang, pilihan ini karena kami punya waktu luang cukup lama sebelum keberangkatan kereta dari Semarang.

Jam 7.30 malam kami sudah tiba di Stasiun Poncol, Semarang, dan benar saja loket belum dibuka, kereta ekonomi yang akan kami tumpangi baru akan datang jam 12.30 pagi, ada 5 jam waktu kami menunggu.

Keliling Kota Semarang rasanya pilihan terbaik dibanding harus menunggu di stasiun selama 5 jam lamanya. Hujan rintik-rintik, taksi kami panggil untuk kemudian minta diantar ke Simpang Lima, hanya tempat inilah yang saya hafal setelah berulang kali menginjakkan kaki ke Semarang.

Pilihan untuk masuk ke dalam Mal Ciputra dirasa lebih baik daripada hujan-hujanan di Lapangan Simpang Lima. Pandangan pengunjung mal langsung tertuju kepada kami, aneh, tapi maklum karena kami sadar masuk mal dengan membawa tas carrier besar dengan dandanan seadanya.

Duduk di sebuah coffee shop di dalam mal sambil menunggu jam 11, belum juga jam 11 sudah terdengar pengumuman mal akan ditutup jam 9, cepat sekali. Kami keluar lagi dari mal, sambil mencari tempat makan yang terlihat ramai, ada satu tempat makan yang cukup ramai, namanya Jagung Serut Modern di Jalan Gajah Mada, penasaran, lalu kami pun mencoba, pesan jagung serut keju, rasanya cukup enak. jagung di serut dari batangnya lalu diberi susu dan keju di atasnya.

Jagung Serut

Tepat jam 11 malam, kami sampai ke Stasiun Poncol, kemudian membeli tiket kereta Kertajaya. Tepat sesuai dugaan saya, kami tidak mendapat tempat duduk. Saya sudah membayangkan pengalaman saya pada awal bulan Desember kemarin yang juga naik kereta ekonomi dan harus berdiri dari Jakarta sampai akhirnya mendapatkan tempat duduk di Yogyakarta.

Begitu masuk ke dalam gerbong kereta, pemandangannya tidak jauh seperti bayangan saya sebelumnya, orang yang tidur dengan sembarangan melintang sehingga menghalangi jalan, tukang jualan yang hilir mudik menawarkan berbagai macam barang dagangannya, penumpang yang tidak memakai baju, mungkin merasa panas atau mungkin hanya iseng. Kami mencari tempat yang tidak begitu penuh untuk meletakkan carrier kami yang besar.

Tepat jam 1, kereta mulai meninggalkan Stasiun Poncol, Semarang menuju Stasiun Gubeng, Surabaya. Harus berdiri di dalam kereta ekonomi malam-malam rasanya sungguh menyiksa, karena mata sangat ingin terpejam, namun rasanya tidak mungkin tertidur dalam keadaan berdiri. Satu jam sudah lewat, kami masih berdiri, dua jam, tiga jam, akhirnya jam setengah 4 pagi kami mendapatkan tempat duduk, tepat 2 setengah jam berdiri. Tidak terlalu buruk rasanya dibandingkan dengan pengalaman sebelumnya yang harus berdiri selama 8 jam.

Jam 5.30 pagi akhirnya kami sampai juga di Surabaya, kota yang dijuluki Kota Pahlawan. (bersambung)

fact behind story :

Patai Bandengan
Sewa ATV : Rp.20.000 untuk 15 menit
Sewa Kano : Rp. 15.000 untuk 1 jam
Sewa Jetski : Rp.120.000 untuk 15 menit
Banana Boat : Rp.150.000/ Rp.30.000 per orang
Bis Jpr - Smg : Rp.20.000
Travel Jpr - Smg : Rp. 27.000
Tiket Kereta Smg - Sub : Rp.35.000

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

My TripAdvisor