Sunday, November 6, 2011

Gabung Mulung Tidung by Couchsurfing and Kakigatel.com

Matahari belum juga terbit di ufuk Timur, ayam pun baru bersuara membangunkan para manusia, namun pagi ini saya sudah dalam perjalanan ke Pelabuhan Muara Angke. Hari ini saya akan berangkat menuju Pulau Tidung, untuk mengikuti acara Charity Event yang dibuat oleh www.couchsurfing.org dan kakigatel.com, acara ini mengajak kita selain berwisata di Pulau Tidung, namun juga ikut turut serta peduli terhadap kebersihan Pulau Tidung. Para peserta yang berjumlah tidak kurang dari 260 orang akan menjadi pemulung di Pulau Tidung.


Jam 5.45 saya sudah tiba di Terminal Grogol, disini akan menjadi titik pertama pertemuan kami  sebelum menuju Pelabuhan Muara Angke. Setelah menunggu beberapa peserta tiba, lalu kami segera melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Muara Angke dengan angkot M01. 

Dengan sedikit kemacetan pada gerbang masuk Pasar Ikan Muara Angke akibat tidak kunjung selesainya pembangunan jembatan baru, sehingga menyebabkan jalur yang bisa dilewati kendaraan hanya 1 lajur saja. Kendaraan pun harus bergantian dan berebutan untuk memasuki dan keluar dari kawasan ini. Tidak sampai 30 menit, kami sudah tiba di Pelabuhan Muara Angke, kondisinya saat itu sedikit becek pada jalannya, sepertinya malam harinya sehabis hujan. Untuk menuju Pelabuhan Muara Angke yang terletak di belakang pom bensin Muara Angke haruslah melewati pasar ikan, saat melewati pasar ikan, aroma ikan yang bercampur – aduk terhirup.  Sebagian yang belum terbiasa mencium bau ini langsung menutup hidungnya rapat-rapat.

Dermaga Muara Angke


Dari kejauhan sudah terlihat gerombolan yang akan berangkat ke Pulau Tidung, tidak sulit menemukannya, karena panitia sudah mengenakan baju kuning bertuliskan “Gabung Mulung Tidung”, setelah segera melakukan registrasi, lalu dimulailah pembagian kelompok. Masing-masing kelompok mempunyai team-leader dan juga sweeper yang mempunyai tugas masing-masing.

J
am setengah 8 para kelompok mulai memasuki kapal yang akan membawa kami ke Pulau Tidung. Masing-masing peserta mulai mencari spot untuk lesehan di kapal, saya beserta beberapa teman memilih duduk di belakang kapal.

Dua setengah jam kemudian, sosok Pulau Tidung pun mulai terlihat, kecepatan kapal diturunkan sedikit-demi sedikit, karena kapal akan bersandar di dermaga Pulau Tidung, di dermaga terlihat beberapa kapal yang lebih dulu sampai disana. Begitu turun dari kapal, beberapa peserta sibuk berfoto-foto di bawah ucapan “Selamat Datang di Pulau Tidung”, sementara panitia sudah sibuk berteriak dikejauhan memanggil peserta untuk segera berkumpul dahulu. Selain sekitar 260 orang wisatawan yang datang ke Pulau Tidung siang itu, sudah banyak rombongan wisatawan lain yang datang ke Pulau Tidung.

Memulung Sampah



Di lapangan dermaga ramai dengan ojek motor yang sudah dimodifikasi, menawarkan jasanya kepada para penumpang yang baru turun dari kapal. Tak lama menunggu, panitia membagi kelompok berdasarkan jenis kelamin untuk pembagian rumah, 1 rumah ditempati sekitar 15-20 orang peserta, cukup padat nampaknya.
Panitia memberikan waktu sejenak kepada para peserta untuk bersantai sebelum kegiatan utama dilakukan. Jam 1 siang, 260 peserta dan panita berbaju kuning berkumpul kembali di dermaga, mengenakan masker, sarung tangan, dan membawa kantung plastik hitam besar para pemulung berkaus kuning ini tampak begitu semangat untuk membersihkan pulau ini dari sampah. Setelah pembagian area untuk memungut sampah, kemudian setiap kelompok diberi pendamping, masyarakat Pulau Tidung.



Pemulung di Pulau Tidung
Kelompok saya dapat lokasi untuk memungut sampah di pinggir pantai, begitu sampai lokasi, kami semua langsung berkomentar melihat tumpukan sampah di depan kami, tempat tersebut lebih mirip dengan tempat pembuangan sampah daripada terlihat sampah yang terbawa arus laut ke Pulau Tidung. Kami segera memulai acara pungut-memungut sampah, macam-macam sampah aneh yang ditemui, diantaranya popok bayi, sandal, sepatu, bungkus mie instan, dan KONDOM, ya salah satu peserta di kelompok kami menemukan beberapa kondom bekas pakai diantara tumpukan sampah tersebut.

Setalah kantong plastic penuh, kami membawa sampah ke lokasi pembuangan sampah yang terletak di belakang pulau. Sambil menunggu kelompok lain membawa sampah hasil pungutannya, kami sibuk berfoto di pantai dekat lokasi pembuangan sampah.

Setelah acara pungut-memungut selesai, lalu kami jalan-jalan ke Pulau Tidung Kecil, sudah banyak orang yang berkumpul di Jembatan Cinta. Kenapa dinamakan Jembatan Cinta, terjawab oleh Bapak Bupati Kepulauan Seribu pada malam harinya, yaitu menurut mitos yang beredar, jika melompat dari jembatan sebanyak 7 kali, akan mendapatkan jodoh. Tidak heran banyak sekali orang yang lompat dari jembatan setinggi kurang lebih 8 meter itu ke laut, mungkin mereka niat sekali mencari jodoh. Haha.

Banyak yang ingin melompat dari jembatan, tapi begitu sudah di pinggir jembatan, mereka tidak jadi untuk melompat, takut katanya begitu melihat ketinggian jembatan dari atas. Beberapa yang mempunyai nyali cukup berani, lompat dari jembatan berkali-kali, ada juga yang salto lompat dari jembatannya, dan saya salah satunya. Hehe.

Puas lompat dari jembatan dan menyusuri jembatan panjang sejauh kurang lebih 500m menuju Pulau Tidung Kecil, lalu rombongan kembali ke penginapan masing-masing. Bersiap untuk acara malam hari di depan kantor kelurahan Pulau Tidung, rencananya akan ada ramah tamah dengan Bapak Bupati Kepulauan Seribu beserta jajarannya.

Acara malam hari pun berlangsung meriah dan penuh tawa, berkat MC Idfi dan Ozak yang sukses mengerjai beberapa peserta yang dapat giveaway. Jam 10 malam, acara pun selesai, para peserta kembali ke penginapan.

Snorkeling

Jam 5 pagi saya sudah terbangun, penginapan nampak sepi, rupanya sebagian penghuni sudah pergi ke arah jembatan untuk melihat sunrise. Sebenarnya saya juga ingin melihatnya, namun saya beserta beberapa teman akan snorkeling di pulau-pulau sekitar Pulau Tidung. Jam 6 kami sudah kumpul di dermaga, setelah memilih alat snorkel yang pas, para peserta kemudian naik ke perahu yang akan membawa kami berkeliling pulau.






Pemberhentian pertama di dekat Pulau Air, air sangat jernih, sehingga terumbu karang dan ikan-ikan terlihat jelas. Tidak sabar rasanya untuk segera bergabung bersama mereka dan melihat keindahan lainnya. Tidak lama setelah turun ke laut, beberapa teman saya langsung naik lagi karena badan mereka gatal-gatal tersengat ubur-ubur, saya pun tersengat ubur-ubur, tapi karena begitu terpesona dengan keindahan lautnya, saya anggap itu biasa saja. Kurang lebih 40 menit snorkeling di Pulau Air, lalu pindah lokasi ke Pulau Payung, di Pulau Payung sendiri tidak banyak ubur-ubur, namun keindahan bawah airnya tidak sebagus di Pulau Air. Disini kami lebih lama snorkeling-nya, sekitar satu jam, saya berusaha mencari bintang laut, tapi tidak dapat menemukannya disini, begitu juga dengan ikan clown atau nemo tidak ada disini. Pulau Payung merupakan pulau terakhir untuk kami snorkeling, karena waktunya tidak memungkinkan lagi, harus mengejar kapal pulang ke Muara Angke pada pukul 1 siang.


Loncat di Jembatan Cinta
Sebelum kembali ke penginapan, saya dan beberapa teman kembali ke Jembatan Cinta lagi, saya dan beberapa teman ingin lompat lagi, lompatan saya kemarin baru 3 kali, masih kurang 4 kali untuk mencapai 7 kali sesuai mitos. Haha. Salut kepada teman saya Emmy, yang walaupun perempuan dan mungil, dan tidak bisa berenang, namun ia berhasil mengalahkan para teman saya yang pria untuk lompat sebanyak 2 kali. Go Emmy!!

Kapal telat datang…padahal kami semua sudah rapi menunggu di dermaga sejam pukul 12.30, ternyata kapal yang akan mengangkut kami baru datang jam setengah 3. Ya, ini akhir perjalanan Charity Event yang diselenggarakan oleh www.couchsurfing.org dengan nama Gabung Mulung Tidung.
Thanks for everyone who participated in this event.

Fact behind story :

Biaya GMT : 190.000 (kaos, 3x makan, penginapan)
Sewa kapal snorkeling : 20.000/orang x 27 orang
Sewa snorkel, masker, fin : 25.000/orang (saya bawa sendiri)

No comments:

Post a Comment

My TripAdvisor