Thursday, October 18, 2012

Menikmati Siam Reap dan Angkor Wat

Belum lama rasanya saya terlelap tidur, namun bunyi alarm dari hp cukup nyaring untuk membangunkan saya pagi itu. Sengaja, saya bangun pagi sekali, karena akan melihat sunrise di Angkor Wat yang (katanya) sangat mempesona.

Di depan hostel sudah berkumpul beberapa pengendara tuk-tuk yang menawarkan untuk mengantarkan keliling Angkor Wat, namun saya tolak, karena saya akan berkeliling dengan sepeda. Sepeda ontel yang saya sewa seharga USD 2 dari hostel mulai saya kayuh, kondisinya tidak bisa dibilang masih bagus, namun juga tidak jelek. Saya sudah cukup telat untuk melihat sunrise pikir saya, karena saya berangkat pukul 4.30 pagi dan saya belum tahu jarak dari Kota Siam Reap ke Angkor Wat berapa jauh.
Penerangan saya hanya dari senter kepala yang saya bawa, jalanan sepi sekali, hanya suara tuk-tuk yang hilir mudik, semuanya menuju arah yang sama, ke Angkor Wat. Saya mengikuti mereka dalam kegelapan, kanan kiri saya tak lain pepohonan lebat. Setelah mengayuh kurang lebih 40 menit, pintu gerbang loket Angkor Wat mulai terlihat, walaupun samar-sama karena gelap.

Sepeda saya letakkan di area parkir, kemudian menuju loket. Beberapa kali saya disapa dengan bahasa lokal yang pasti tidak saya mengerti, saat di depan loket pun saya diajak berbicara dalam bahasa lokal oleh petugas, “sue-saw-day” berkali-kali mereka menyebut kata itu. Saat di depan loket dan hendak membayar pun mereka menyuruh saya langsung masuk saja tanpa harus membeli tiket, hal ini saya ketahui dari isyarat tangannya. Mungkin menyadari saya yang tidak mengerti saat diajak berbicara bahasa Khmer, mereka menanyakan saya dari mana, saat saya bilang Indonesia, saya kembali disuruh menuju loket untuk membeli tiket seharga USD 20. Andai saja saya membalas sapaan mereka dengan 'sue-saw-day' yang berarti halo dalam bahasa setempat, saya tidak perlu membayar tiket masuk seperti layaknya penduduk Kamboja. Haha.

Ada beberapa pilihan tiket masuk untuk mengunjungi Angkor Wat, tiket harian seharga USD 20, tiket tiga hari seharga USD , dan tiket 7 hari seharga USD . Biasanya wisatawan membeli tiket harian dan 3 hari, yang membeli tiket 7 hari, biasanya adalah peneliti atau pengamat yang suka dengan detail candi.

Angkor Wat belum lagi terlihat dari pintu gerbang tempat pembelian tiket, masih sekitar 2km lagi. Udara pagi hari cukup sejuk disana, lebih dari 50 menit menggenjot sepeda, tapi saya tidak berpeluh. Sepeda saya parkirkan di pelataran parkir di depan Angkor Wat. Ternyata saya salah duga, jam 5.30 pagi matahari belum sama sekali menunjukkan rupanya, langit masih gelap. Sunrise disini rupanya mulai sekitar jam 5.45 kala itu. Perlahan sinar matahari muncul dari belakang Angkor Wat, memberikan efek mistis candi yang disinari cahaya matahari. Kolam di depan Angkor Wat merupakan favorit para pengambil foto, karena dapat memberikan efek refleksi sempurna Angkor Wat.
Angkor Wat 6.00AM

Kolam di Depan Angkor Wat

Matahari pagi di Angkor Wat

Tak ingin menunggu lama, saya mulai memasuki Angkor Wat yang megah tersebut, saya mulai menjelajahi sayap kanan Angkor Wat, memperhatikan detail arca dan juga ukiran dinding. Sesekali saya mendekat ke rombongan turis yang ada guide-nya, berpura-pura sebagai salah satu peserta tour, guna mendapatkan informasi gratis mengenai Angkor Wat. Haha.

Angkor Wat dari lantai atas

Bagian sayap kanan Angkor Wat


Kemudian saya mengantri untuk naik ke bagian puncak Angkor Wat, tangganya cukup curam, diharapkan sangat berhati-hati dalam melangkah.

Mau Foto? Bayar.
Di salah satu sisi Angkor Wat

Saya lalu pindah lokasi ke Angkor Thom, matahari mulai tampak menerangi keseluruhan Angkor Wat, cukup terik. Rombongan turis menggunakan bus hilir mudik, mayoritas oma-opa berasal dari Korea Selatan dan Jepang. Tidak banyak wisatawan lokal, padahal biaya masuk ke Angkor Wat GRATIS bagi warga negara Kamboja. Wisatawan asing cukup banyak disini, tapi tidak datang dengan rombongan, lebih banyak mereka adalah individual traveler.


Bayon adalah tujuan selanjutnya, saya kagum dengan candi ini, memiliki tower berjumlah 54 buah dengan bentuk kepala yang menghadap ke 4 sisi. Sebagian bangunannya tidak utuh lagi, namun tidak mengurangi keindahannya, beberapa relief masih nampak jelas.
Bayon
Bayon dari luar

Selanjutnya perjalanan saya teruskan ke Ta Prohm, yang sangat terkenal karena digunakan sebagai tempat syuting Tomb Raider yang diperankan oleh Angelina Jolie. Penduduk sekitar menyebut Ta Phrom sebagai Jungle Temple, awalnya saya tidak tahu mengapa disebut sebagai Jungle Temple, namun setelah sampai disana, saya paham mengapa disebut demikian. Ta Prohm memang seperti candi yang berada di hutan, beberapa bagian candi diselimuti pepohonan besar dengan akar yang menjalar kemana-mana. Sulit membayangkan bagaimana pohon-pohon tersebut dapat tumbuh berkisinambungan dengan bangunan candi.
Saat itu sedang dilakukan pemugaran bangunan candi yang sudah hancur, pemugaran tersebut dilakukan atas prakarsa pemerintah India. Berdasarkan referensi dari seorang teman, saya berusaha mencari arca “smiling Budha” yang tersembunyi diantara pepohohan. Mencari kesana-kemari namun saya tidak dapat menemukannya, akhirnya saya bertanya kepada salah seorang guide, dengan baik hatinya ia mengantarkan saya menuju tempat tersebut, padahal ia sedang bertugas memandu 2 orang turis dari Amerika.

Pohon besar Silk-cotton di Ta Prohm

Menghindari para penjual souvenir adalah paling baik, para penjual souvenir ini lebih banyak anak-anak. Awalnya mereka mendekati kita, memuji-muji, kemudian menawarkan barang dagangan, dan akhirnya sedikit memaksa untuk membeli. Tidak jauh berbeda dengan keadaan di Indonesia.

Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore saat saya selesai berkeliling Angkor Wat, rencana untuk melihat sunset di Pnomh Bakeng saya batalkan karena sudah sangat lelah. Sepeda saya arahkan kembali ke hostel untuk beristirahat sebelum menghabiskan malam di Siam Reap.

Night market
Tertidur selama 3 jam, saya pun mulai bersepeda melihat Kota Siam Reap di malam hari. Siam Reap memiliki beberapa pasar malam, diantaranya Angkor Night Market dan Siam Reap Night Market. Harganya? Jangan ditanya, murah sekali, saya membeli hammock seharga USD 3, kaos bergambar Siam Reap seharga USD 3, kaos dengan kualitas bagus pun hanya diharga USD 5. Pembayaran di Siam Reap sangat lazim menerima USD, bisa bayar dengan USD atau Riel, mata uang setempat, kadangkala saat membayar dengan USD, uang kembalian bisa diberikan Riel atau sebaliknya.

Jenis makanan di All You Can Eat

Makanan dimasak di atas arang
Puas berbelanja dan tak ingin berlama-lama di night market karena takut menghabiskan seluruh uang saya, lalu saya makan malam di sebuah restoran all-u-can-eat hanya USD 3,5!! Makanannya enak dan restorannya ramai sekali, namun ada beberapa menu yang mengandung babi, pelayannya akan menginformasikan kok mana menu yang halal dan mana yang tidak, asalkan kita bilang jika kita tidak memakan daging babi.



No comments:

Post a Comment

My TripAdvisor