Friday, May 23, 2014

Internet Terbaik Melalui Speedy Instan

Internet telah mengubah segalanya. Kita berharap untuk mengetahui segala sesuatu dengan langsung. Jika Anda tidak mengerti komunikasi digital, Anda berada pada kerugian. (Bob Parsons)

Kata-kata yang diucapkan Bob Parsons—Founder Go.Daddy.com ini menggambarkan betapa pentingnya mengenai tekhnologi internet. Bayangkan jika suatu negara tertinggal tekhnologi internet-nya, berapa besar kerugiannya pada masa ini?

Indonesia, negara yang dihuni oleh ratusan juta penduduk yang menyebar di berbagai kepulauan. Perkembangan tekhnologi internet tidak bisa dilirik sebelah mata saja, cepatnya perkembangan tekhnologi internet tidak lepas dari dukungan pemerintah Indonesia melalui kesiapan infrastrukturnya.

Salah satu pihak yang memegang kendali dan menjadi inovator terhadap perkembangan tekhnologi internet di Indonesia adalah Telkom. Berbagai program diluncurkan guna merangsang perkembangan internet di Indonesia, contohnya adalah Indonesia Wifi atau @wifi.id.

Saya perhatikan beberapa tahun belakangan ini, banyaknya fasilitas internet @wifi.id pada beberapa tempat umum. Saya pertama kali mencobanya 2 tahun lalu di area Kota Tua Jakarta yang disediakan fasilitas hot spot gratis, wow koneksinya bagus sekali!

Perkembangan @wifi.id pun terbilang sangat cepat, saya ingat beberapa tahun lalu mencari koneksi internet melalui wifi agak sulit. Beberapa kafe memang menyediakan layanan free hot spot, itu pun beradu untung, karena koneksi yang lambat, sedangkan saya  menginginkan koneksi internet yang cepat dan juga stabil.

Layanan @wifi.id pun tidak semuanya berbayar, Telkom memberikan fasilitas free wifi yang bisa diakses pada beberapa tempat. Kecepatannya? Untuk sekelas layanan wifi gratis, ini yang menurut saya tercepat, pun jika dibandingkan dengan wifi khusus yang tersedia pada beberapa kedai kopi. Ini saya buktikan dengan mengecek kecepatan koneksi @wifi.id melalui speedtest, hasilnya cukup baik.

Saat ini saya semakin giat menggunakan @wifi.id, untungnya saya mendapatkan bonus kartu Speedy Instan saat melakukan pembelian notebook berbasis prosesor Intel. Lumayan banget, bonusnya 1.000 jam dengan koneksi internet up to 10 Mbps! Tentunya saya harus registrasi dulu di website Speedy Instan dan melakukan Top Up voucher sebesar Rp.15.000 sebelum bisa menikmati layanan ini.

Mengkoneksi kartu Speedy Instan ini mudah sekali, awalnya saya kira agak sulit. Seperti saat saya nongkrong di salah satu kafe di Mall Pejaten Village, saya memilih untuk mengaktifkan kartu Speedy Instan saya dibandingkan layanan free wifi yang disediakan oleh kafe tempat saya berada. Kenapa? Gampang aja jawabnya, koneksi yang dimiliki oleh Speedy Instan lebih cepat dan stabil.

Jangankan untuk membuka website wajib seperti portal berita lokal, detik.com atau pun portal berita internasional, cnn.com, men-download file berukuran puluhan megabyte tidak butuh waktu lama. It’s Speedy connection, bro!

Nah saya udah cobain layanan internet cepat dan stabil dari Speedy Instan. Kalo kamu gimana?

http://dmp1.idblognetwork.com/capt.php?p=lombablog-D01
" width="1" height="1">

Tuesday, May 20, 2014

Layanan Speedy Instant: Asiknya Akses Internet Cepat dan Stabil Dimana Saja

Dewasa ini kebutuhan Internet seakan naik tahta mengalahkan beberapa kebutuhan primer lainnya. Nggak percaya? Hitung deh berapa banyak orang yang rela ngeluarin uang Rp.50.000 untuk secangkir kopi dan akses internet gratis berjam-jam di kafe, tapi makannya di Warteg atau Warung Tegal yang cuma 10 ribu perak.

Jumlah pengguna internet di Indonesia saat ini signifikan jumlahnya, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 71,19 juta orang hingga akhir tahun 2013. Jumlah yang tidak bisa dibilang kecil. Fakta ini mengungkapkan betapa dominannya kebutuhan internet bagi masyarakat Indonesia.

Bandingkan dengan internet yang dahulu hanya bisa dinikmati oleh segelintir kalangan saja akibat kendala mahalnya biaya untuk terhubung ke dunia maya ini. Saat ini kebutuhan akan internet  seakan tidak mengenal waktu dan tempat, di rumah maupun di tempat umum seperti kafe, mall, dan bandara.

Lihatlah, didukung dengan perkembangan smartphone dan tablet yang semakin menjamur, aksesibilitas ke dunia maya pun tidak lagi sesulit dulu. Saya ingat sekali jika dulu mengakses internet harus pergi ke warung internet (warnet), lalu kemudian beralih menggunakan flash disk modem—yang masih dipergunakan hingga saat ini.

Sebagai pekerja yang menghabiskan waktu sebesar 70 persen di lapangan, yang mengharuskan saya bisa kerja dari mana saja, pekerjaan saya menuntut kesigapan terhadap koneksi internet. Berkali-kali saya dibuat tidak berkutik akibat koneksi internet yang kurang reliable, akibatnya pekerjaan saya menjadi terbengkalai.

Ada cerita pribadi saat saya diharuskan mengirimkan laporan kepada atasan saya, sementara saya berada di Bandara Soekarno-Hatta bersiap untuk boarding. Awalnya saya berniat mengerjakan laporan saat sesampainya saya di Palembang, nyatanya pesawat yang akan ke Palembang delay selama 1 jam dan saya tidak memiliki koneksi mempuni pada handphone saya untuk melakukan tethering ke notebook. Panik dan bingung, tapi saya berusaha tenang dan mengecek apakah ada fasilitas wifi yang tersedia di boarding lounge, nyatanya ada fasilitas wifi dari wifi.id. YES!! Untungnya saya memiliki voucher Speedy Instan yang pernah saya beli dulu sebesar Rp.5.000, ini pun saya lupa jika menyimpannya di dompet saya. Trus saya ikuti petunjuk di belakang kartunya untuk pengaktifan, voilaaa.. saya langsung terhubung ke akses internet berkecepatan tinggi. Pengiriman laporan dengan attachment yang besar pun selesai dengan cepat.



Layanan Speedy Instan mudah ditemui dimana saja, jika membutuhkan lokasi dimana tempat yang ada fasilisitas wifi.id, bisa cek informasinya di website www.indonesiawifi.com Nah, saya sudah cerita pengalaman menggunakan Speedy Instan, apakah kamu sudah mencobanya juga?

http://dmp1.idblognetwork.com/capt.php?p=lombablog-D01
" width="1" height="1">

Thursday, June 20, 2013

Mencari Sosok Orangutan di Bukit Lawang

“Jangan terlalu dekat dengan mereka, minimal 7 meter jarak normalnya. Walaupun mereka terlihat jinak, tapi kekuatannya jangan diremehkan”, pesan Akim.

“Orangutan wanita dewasa kekuatannya sebesar 4 orang pria dewasa, sedangkan orangutan pria dewasa kekuatannya sebesar 8 orang pria dewasa”, sambungnya.

Tiba-tiba…krreekkk….praakkk..bunyi ranting pohon yang patah. Ucok, salahsatu orangutan senior disitu dengan santainya mematahkan ranting pohon ukuran paha orang dewasa. Andaikan itu manusia, pasti sudah remuk dipatah-patahkannya.

Akim tersenyum melihat saya yang baru saja melihat kejadian tadi. Akim, seorang pemuda lokal asal Aceh berusia kurang lebih 26 tahun. Badannya kurus, dengan celana pendek dan sepatu kets seadanya ia bergerak lincah memandu saya menembus hutan di Taman Nasional Gunung Leuser.
­­­­­­­­­­­                                                                          
                                                                    ****
Kami memulai trekking cukup telat, jam 1 siang. Akim menyanggupi jika paling lambat jam 6 sore saya sudah kembali ke penginapan. Karena saat itu sedang bulan Ramadhan dan saya berpuasa. Sempat ragu akankah saya sanggup trekking dalam kondisi berpuasa, tapi Alhamduliilah saya sanggup.

Trekking dimulai dari perkampungan Bukit Lawang dengan menyebrangi jembatan gantung yang menghubungkan dua sisi Sungai Bohorok. Sungai Bohorok cukup dangkal, dengan batuan kali yang cukup besar.
Jembatan gantung

Sungai Bohorok

“Lihat itu di atas pohon sana!”, Akim menunjuk ke arah 20 meter dari tempat saya berdiri. Terlihat sesosok monyet kecil berwarna hitam dengan garis putih, saat dilihat lebih jelas ia mempunyai tatanan rambut spike di kepalanya.


“Itu adalah Thomas Leaf Monkey” sambung Akim.

Tertawa saya mendengar namanya yang lucu, saya tak terlalu peduli dengan namanya, tapi sosok ini sungguh lucu. Tak lama Thomas-begitu saya menyebutnya, berpindah dengan cepat ke pohon lainnya.

Menemukan orangutan di Taman Nasional Gunung Leuser tidak bisa dibilang mudah, karena Taman Nasional Gunung Leuser adalah habitat aslinya, bukan kawasan konservasi seperti di Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan. Akim bercerita kadang ia membawa tamu sudah seharian trekking di Gunung Leuser tapi tak dapat menemukan orangutan. Tapi, pengunjung bisa melihat orangutan saat feeding time, 2 kali sehari.

Kami terus berjalan, menuruni dan menaiki bukit, belum satupun terlihat orangutan. Akim tidak patah semangat, ia terus melihat jejak-jejak orangutan dari dahan-dahan di pohon.

Sssttt…Akim menyuruh agar saya tidak terlalu berisik, seraya ia menunjuk ke atas pohon. Itu dia, yang selama ini saya tunggu-tunggu, ada seekor orangutan wanita dewasa di atas pohon, tak jauh dari pohonnya, ada lagi sesosok orangutan yang lebih kecil, itu adalah anaknya jelas Akim.

Kami lanjutkan perjalanan, tak jauh dari lokasi pertama, semakin banyak orangutan yang kami temui, ukurannya bermacam-macam. Yang paling menarik perhatian saya adalah seekor orangutan kecil, menurut Akim usianya baru 1 tahun. Ia menatap nanar melihat kehadiran kami, seolah mengisyaratkan ia ingin diberi makan.


Sebenarnya memberi makan orangutan dilarang bagi pengunjung, namun beberapa guide ada yang nakal dengan membiarkan pengunjung memberi makan orangutan.

“Takutnya jika diberi makan selain menu yang biasa mereka makan, akan sakit”, jelas Akim.

“Jika ranger taman nasional melihat, guide tersebut akan dimarahi pasti”, sambungnya.


Akim memang tidak membawa makanan untuk orangutan, ia peduli terhadap orangutan. Feeding station menjadi tempat terakhir yang saya kunjungi, saat itu masih kosong, belum ada satupun orangutan yang mendekat ke feeding station. Seorang ranger taman nasional membawa seember pisang lalu dilemparkan ke atas feeding station yang berbentuk alas kayu. Ranger tersebut lalu mengeluarkan suara-suara memanggil orangutan.
Ucok di feeding station
                                                             *****
Saya berjalan menuju tepian Sungai Bohorok, perjalanan menuju penginapan bukan lagi trekking, tapi river tubbing-begitu mereka menyebutnya. River tubbing menggunakan ban karet besar yang diikatkan dengan tali, bisa terdiri dari 3 – 4 ban menjadi seperti perahu pada rafting.


Akim duduk di ban paling depan memegan batang kayu berukuran panjang 2 meter, dan seorang teman Akim duduk di paling belakang memegang tas saya. Perlahan ban tersebut meninggalkan tepian sungai dan bergerak ke tengah sungai. Akim dengan sigap mengarahkan ban agar tidak menyangkut di batu kali, beberapa kali kami melewati riam sungai yang membuat suasana menjadi tegang. Namun, ini sungguh mengasikkan.

Untuk mencapai Bukit Lawang, dari kota Medan diperlukan waktu selama 3 – 4 jam, melewati perkebunan kelapa sawit milik PTPN dan London Sumatera. Kendaraan umum banyak melayani rute ini, cukup membayar Rp.15.000 dari terminal Pinang Baris hingga terminal Bukit Lawang.

Terminal Bukit Lawang

Dari terminal Bukit Lawang ke penginapan, bisa ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 1 KM, atau pilihan lain menggunakan bentor dengan membayar Rp.5.000. Ada banyak penginapan di Bukit Lawang, harganya bervariatif, mulai dari harga Rp.75.000/malam.  Untuk trekking di Bukit Lawang wajib didampingi oleh guide, harga yang ditawarkan memang agak mahal, biasanya mereka menawarkan harga sebesar Rp.300.000 - Rp.350.000 per orang. Namun, harga tersebut bisa dibicarakan, terlebih bagi pengunjung lokal.

Jika bingung untuk mencari hotel di Bukit Lawang, bisa memanfaatkan jasa Rajakamar, website online penjualan hotel murah di seluruh Indonesia. Harga yang ditawarkan murah dibandingkan website serupa, selain itu Raja Kamar sering mengadakan promosi, seperti promo hotel 88rb saja. Semoga Rajakamar nantinya bisa membuat program liburan gratis bagi para anggotanya.



Tuesday, June 11, 2013

Cerita Dari Meru Betiri

Taman Nasional Meru Betiri menjadi taman nasional terakhir dari 3 taman nasional di Provinsi Jawa Timur yang saya kunjungi. TN Meru Betiri terletak pada dua wilayah, yaitu Jember dan Banyuwangi, keduanya mempunyai keeksotisan tersendiri.

Akses menuju taman nasional memang tidak selalu mudah, begitu juga akses menuju TN Meru Betiri. Beberapa informasi yang saya dapatkan menyebutkan tidak ada kendaraan umum menuju lokasi TN Meru Betiri. Saya memilih untuk mengunjungi TN Meru Betiri pada wilayah Jember, dengan pertimbangan waktu tempuh yang lebih cepat dan akses yang lebih mudah.

Jika menggunakan mobil, disarankan untuk menggunakan mobil dengan ground clearance yang cukup tinggi dan bertenaga. Jika menggunakan motor, lebih baik menggunakan motor non-matic.

Gerbang utama Taman Nasional Meru Betiri wilayah Jember
Setelah menempuh perjalanan 1 jam menembus perkebunan karet, sampailah saya pada pintu gerbang bertuliskan Taman Nasional Meru Betiri. Akhirnya, saya bisa menjejakkan kaki juga di taman nasional ini.
Seorang petugas penjaga menyapa saya ramah, seraya mengutarakan maksud kedatangan saya siang itu. Ia berusia sekitar 50 tahun, dengan rambut yang sudah mulai memutih, dulunya Pak Cucuk ditugaskan pada Taman Nasional Alas Purwo sebelum dipindahkan kesini. Pantas ia belum terlalu hapal mengenai taman nasional ini.

Saya menyerahkan uang sebesar Rp.8.000 sebagai tiket masuk TN Nasional Meru Betiri untuk 2 orang, walaupun di lembar tiket hanya tertulis Rp.2.500. Ia memberi saya beberapa brosur mengenai TN Meru Betiri. Jika dilihat dari brosurnya, TN Meru Betiri menarik, ada banyak hal yang bisa dilakukan di taman nasional ini. Disebutkan di Pantai Bandealit sebagai daya tarik utama ada fasilitas kano, bodysurfing, menyusuri sungai menggunakan speedboat, dan juga green house anggrek yang koleksinya banyak menyimpan anggrek varietas langka.

Perjalanan hanya 14 km dari pintu gerbang utama, tapi ini akan sangat menantang karena medannya yang rusak parah. Hati-hati di jalan, karena jalan licin, cuma itu pesan Pak Cucuk.

Jalan yang rusak
Benar saja, baru beberapa ratus meter meninggalkan pintu masuk TN Meru Betiri, di depan saya jalanan menanjak dengan kontur yang rusak menyambut saya. Sejenak saya berhenti guna melihat rute utnuk melewati jalan tersebut. Sukses menempuh jalan tersebut, pada beberapa tempat saya kembali harus menjumpai keadaan serupa.

Kali ini batang pohon yang tidak terlalu besar menutupi jalan saya, dari letaknya batang pohon tersebut terlihat sengaja diletakkan, bukan pohon yang tumbang. Entah siapa yang melakukan itu, karena lokasi ini sepi sekali. Susah payah saya mendorong batang pohon tersebut agar menjauhi jalanan.

Perkampungan warga
Beberapa kilometer terakhir dari Pantai Bandealit, saya melihat ada perkampungan warga. Aneh juga melihat adanya perkampungan warga di dalam kawasan taman nasional. Rumah-rumah semi permanen berbahan kayu anyaman, sepi sekali, tidak terlihat adanya kegiatan dari penghuninya.

Gerbang masuk Pantai Bandealit

Perjalanan saya lanjutkan kembali, ada pos penjagaan menuju Pantai Bandealit, namun pos tersebut kosong. Pada sisi kiri saya ada beberapa petunjuk mengenai tempat di sekitar Pantai Bandealit.

Pantai Bandealit
Pantai Bandealit
Akhirnya, Pantai Bandealit berada di hadapan saya, terbayar lunas perjuangan menembus medan menuju pantai ini. Garis pantainya cukup panjang dengan ombak yang cukup deras, saya rasa ombaknya bisa digunakan untuk olahraga selancar. Saat perjalanan pulang saya menjumpai dua orang pemuda lokal yang menenteng papan selancar, ternyata mereka akan berselancar di Pantai Bandealit.

Muara sungai
Camping ground Pantai Bandealit

MCK?
Pada sisi sebelah kanan pantai, ada muara sungai yang biasa menjadi tempat mencari minum rusa-rusa yang ada di taman nasional ini. Siang itu, tidak ada satwa apapun yang mendekat ke pantai, sayang sekali.

Kawasan mangrove
Papan penunjuk bertuliskan menuju kawasan hutan mangrove membelokkan saya sekitar beberapa ratus meter. Ada dua buah bangunan pondok wisata yang kosong, kedua bangunan ini tidak terurus, mungkin karena tidak ada pengunjung yang memanfaatkan, jadi kondisinya dibiarkan terlantar.

Di belakang pondok wisata, terdapat rawa yang menjadi hutan mangrove. Tempat ini menarik sekali dengan latar pemandangan gunung kecil dan hutan mangrove. Fasilitas speedboat yang disebutkan pada brosur memang ada, namun melihat kondisinya saya tak yakin masih bisa digunakan dengan baik.

Bagi yang ingin mengunjungi TN Meru Betiri, perjalanan akan sangat panjang dan melelahkan. Jika berasal dari kota lain, bukan dari Jember. Bisa beristirahat semalam di kota Jember sambil menikmati wisata kulinernya. Ada 2 pilihan hotel murah di Jember dari Raja Kamar yang bisa dimanfaatkan, yaitu Hotel Royal dan Hotel Panorama. Konsisten dengan harganya yang murah, Raja Kamar juga sering mengadakan promo, seperti promo hotel seharga 88rb saja. Dengan harga hotel semurah itu, bisa dibilang kalian itu liburan gratis di hotel berbintang.asional Meru Betiri



Saturday, June 8, 2013

Pesona Ekowisata Tangkahan

Petunjuk jalan menuju Batang Serangan menunjukkan jika jalan ini memang menuju ke Tangkahan. Hamparan pohon sawit di kanan dan kiri jalan mulai terlihat, kondisi jalanan yang tadinya beraspal berganti dengan kerikil kecil. Mobil harus bermanuver dengan lincah guna menghindari lubang dan jalanan yang tidak rata.
Mobil harus menyebrangi sungai kecil karena ukuran jembatan yang tidak pas

Jembatan baru dan jembatan lama
Tak banyak terlihat kendaraan lain di perkebunan sawit ini, hanya ada beberapa motor yang dikendarai pekerja perkebunan dan juga truk-truk pengangkut sawit. Ada beberapa persimpangan yang tak diberi petunjuk arah, sehingga cukup membingungkan bagi yang pertama kali ke Tangkahan.

Tangkahan memang tidak sepopuler Pulau Samosir di Danau Toba, atau bahkan Bukit Lawang yang juga terletak dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.  Letaknya yang hanya 90 KM dari kota Medan tidak lantas menjadikan kawasan ini dikenal oleh masyarakat Medan. Beberapa orang Medan yang saya tanyai bahkan menggeleng dan mengaku baru pertama kali mendengar nama Tangkahan.

Selamat datang di Tangkahan
Dulunya Tangkahan memang terkenal sebagai pusat kegiatan illegal logging di Taman Nasional Gunung Leuser. Seiring dengan semakin menipisnya pohon di Tangkahan, masyarakat setempat sadar jika kegiatan illegal logging harus dihentikan. Lalu muncul ide untuk menjadikan Tangkahan sebagai kawasan ekowisata.

Ekowisata Tangkahan identik dengan gajah, ada beberapa gajah yang bisa digunakan untuk melakukan jungle trekking, masuk ke dalam hutan hujan lebat Indonesia dengan menunggangi gajah. Aktivitas ini berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam dengan biaya per orang sebesar Rp.650.000. Cukup mahal memang biayanya, namun harga ini sebanding dengan pengalaman yang akan dirasakan.
Tangkahan visitor center
Saya berjalan memasuki Tangkahan Visitors Center lalu menuruni tangga dan menjumpai hamparan sungai bening cukup dangkal. Sungai ini mengalir di seluruh area Tangkahan, memberikan kehidupan bagi masyarakat Tangkahan. Rakit penumpang seharga Rp.4.000 per orang untuk rute pulang dan pergi menjadi transportasi penyebrangan sungai yang utama. Penginapan berada di seberang sungai, jadi rakit ini mengendalikan aktivitas di seberang visitor center.
Sungai yang membelah Tangkahan
Dua anak kecil lokal yang saya temui di atas rakit berbaik hati menuntun saya menuju lokasi air terjun terdekat. Untuk menuju lokasi ini perlu menyebrangi sungai, kala itu dangkal karena hujan belum turun. Air terjun ini pertama ini memang tidak terlalu istimewa, kami ditawarkan untuk mengunjungi lokasi air terjun lain yang lebih jauh, namun sayang hujan turun dengan cukup deras, sehingga saya harus menolak tawaran tersebut.


Pilihan aktivitas lain yaitu memandikan gajah, dengan biaya sebesar Rp.50.000 per orang, pengunjung didampingi oleh mahout (pawang gajah) memandikan gajah di sungai. Gajah-gajah ini mengerti dan menuruti perintah mahout, berkali-kali gajah ini menyembur saya dengan air yang tentunya diperintahkan oleh mahout. Usai memandikan gajah, saya diberikan beberapa buah oleh mahout untuk diberikan secara langsung kepada gajah. Menarik sekali.
Gajah dan mahout

Memandikan gajah

Menuju Tangkahan bisa dengan kendaraan umum, naik bis dari Terminal Pinang Baris, namun hanya ada 2 kali jadwal bis per hari dan masih perlu melanjutkan perjalanan dengan ojek selepas terminal terakhir. Paling nyaman dengan menyewa mobil seperti yang saya lakukan, biasanya harga sewa mobil di Medan Rp.350.000 untuk pemakaian 10-12 jam, harga tersebut sudah termasuk supir.

Bila ingin ke Tangkahan, disarankan untuk memulai perjalanan pagi hari atau siang hari. Jika sampai kota Medan terlalu malam,  bisa menginap dulu. Tak perlu bingung untuk mencari rekomendasi hotel di kota Medan, cukup buka saja Raja Kamar, segala informasi mengenai hotel murah yang dibutuhkan bisa didapatkan disitu. Raja Kamar juga sering mengadakan promo, daftar untuk mendapatkan newsletter Raja Kamar, kesempatan untuk mendapatkan harga hotel seharga 88rb. Tunggu saja promo selanjutnya dari Raja Kamar, bisa saja memberikan hadiah liburan gratis untuk kalian kan.





Thursday, January 17, 2013

JAKARTA BANJIR..!!

Sudah bukan rahasia lagi jika Jakarta merupakan langganan banjir, baik itu banjir yang sudah bisa diprediksi seperti banjir 5 tahunan atau banjir yang tidak bisa diprediksi seperti hari ini.


JAKARTA LUMPUH. Sudah 2 hari ini hujan turun cukup deras mengguyur beberapa wilayah Jakarta, puncaknya sejak semalam hujan kembali turun hingga siang ini. Beberapa tanggul yang membendung Jakarta pun jebol, meluberkan air yang ditampung hingga memenuhi berbagai jalanan ibukota. Jalan Sudirman dan Jalan MH Thamrin yang menjadi jalan protokol di ibukota lumpuh total. Beberapa bangunan seperti UOB Plaza terkena dampak parah, 3 lantai basement di UOB Plaza yang dipenuhi toko dan juga kantor dipenuhi air berwarna coklat.

Beberapa mobil nampak mogok karena memaksa menerjang banjir yang cukup tinggi pada beberapa ruas jalan. Jakarta oh Jakarta, kota yang selalu dibangga-banggakan sebagai tempat mencari nafkah harus merasakan kemarahan alam. 

Tidak bisa serta merta menyalahkan alam dalam kondisi ini, alam tidak lah salah, manusia lah yang salah. Lihatlah bagaimana Jakarta kekurangan Ruang Terbuka Hijau, berbagai RTH yang tersedia diubah menjadi bangunan beton tanpa resapan air yang baik. Perilaku cuek dan tidak peduli sebagian masyarakat warga Jakarta yang kerap membuang sampah tidak pada tempatnya menambah parah situasi ini.

Malu rasanya saat teman dari Malaysia menanyakan kabar Jakarta yang digenangi banjir yang mereka lihat pada berita-berita. 

Mudah-mudahan warga Jakarta cepat sadar dan semakin peduli terhadap lingkungan dengan adanya bencana ini. Di bawah ini gambar banjir yang saya ambil dari berbagai sumber :

Bunderan HI


Bunderan Monas

Jalan Sudirman

Mendaki Gunung Papandayan

Melanjutkan perjalanan dari Situs Candi Cangkuang, kami bertiga melanjutkan perjalanan ke Gunung Papandayan, dengan menaiki angkot tujuan Terminal Guntur, sepanjang perjalanan menuju Garut jalan macet dipenuhi kendaraan dengan berbagai macam tipe plat nomor. Mayoritas didominasi kendaraan berplat B dan D. 

Hujan gerimis menemani kami sepanjang perjalananan, tak urun membuat kami perlu berteduh dan sekaligus makan setelah seharian belum makan. Kami minim persiapan untuk naik ke Gunung Papandayan, karena memang tidak mau repot membawa barang banyak, terlebih kami hanya satu hari berada di Gunung Papandayan.

Wednesday, January 16, 2013

Situ Cangkuang, Garut

Garut, sebuah kabupaten di sebelah Selatan Kota Bandung, jaraknya relatif tidak terlalu jauh, dengan perjalanan 1,5 – 2 jam saja sudah sampai di Garut. Dengan catatan tidak ada kemacetan di Nagreg ya.
Sebelum memasuki Garut, dari kejauhan  terlihat Garut yang dikelilingi oleh rantai gunung. Ya memang, Garut terletak di kaki gunung, tercatat ada Gunung Papandayan, Gunung Cikuray menjulang tinggi menutupi Garut.

Sebelum memasuki Garut, mengunjungi Situ dan Candi Cangkuang menjadi pilihan yang tepat, jika naik bis bilang saja mau turun di Simpang Leles. Saat turun, nanti ada dua pilihan untuk menuju Situ Cangkuang yang berjarak 3km dari jalan raya, jika naik delman bayar Rp.10.000/orang hingga Situ Cangkuang. Kami memilih untuk menaiki delman saat itu.

Sunday, January 13, 2013

Menikmati Kesunyian Tongging

Kami sampai di Terminal Pinang Baris setelah menempuh perjalanan 4 jam lebih dari Bukit Lawang. Kali ini kami menaiki angkutan jurusan Kabanjahe, bukan Berastagi tujuan kami, tapi Tongging, sebuah desa kecil di sisi Danau Toba. Desa ini terkenal karena tak jauh dari desa ada sebuah air terjun tertinggi di Indonesia, yaitu Air Terjun Sipiso-Piso, tingginya kurang lebih 120 meter, atau setinggi Monumen Nasional (Monas). Dinamakan Sipiso-Piso, karena bentuk air yang jatuh membentuk seperti pisau saking derasnya.

Berpetualang di Rimba Bukit Lawang

Berat rasanya harus bangun jam 3 pagi dan bergegas ke airport untuk penerbangan pagi. Pesawat Citilink yang saya dan Ratih tumpangi akan berangkat pukul 5.55 pagi, jadi jam 4.55 kami sudah harus sampai di airport untuk check in. Nyatanya pesawat mengalami keterlambatan keberangkatan sekitar 30 menit. Perjalanan 2 jam di udara saya habiskan untuk meneruskan tidur yang terpotong sebelumnya.

Sunday, November 25, 2012

Memajukan Budaya Malu



Sudah bukan rahasia lagi jika rasa “malu” sudah hampir hilang dari peradaban Indonesia. Malu disini maksudnya adalah malu mengakui kesalahan.

Thursday, November 22, 2012

Social Media. Kapan Saja dan Dimana Saja.

Pernahkan membayangkan di jaman serba digital sekarang ini segalanya menjadi lebih mudah dan cepat? Perlu mengetahui kabar teman dekat yang tinggal ribuan kilometer, tinggal tanyakan saja melalui fasilitas messenger (Yahoo! Messenger, Windows Messenger, Skype, dan lainnya). Ingin memamerkan foto  kepada teman, sudah ada Picasa, Flickr, Facebook, dan lainnya. Ingin bersosialisasi dengan teman tanpa bertemu, bisa melalui Twitter, Facebook, Path, dan lainnya.

Monday, November 12, 2012

Aku Tak Mau Jadi Guru


Aku masih ingat ketika menggumam kalimat ini, “Andai aku besar nanti, aku tak mau jadi guru”. Tidak ada yang menyalahkan pilihanku saat itu, baik orangtuaku maupun teman-temanku, terpikir olehku saat itu menjadi guru adalah profesi terakhir yang akan aku pilih jika tak ada lagi profesi lain menjadi pilihan. Aku memang masih kecil saat itu, menginjak kelas 4 sekolah dasar, di sebuah sekolah dasar negeri di Timur Jakarta, sebuah sekolah unggulan yang sangat diminati di wilayah tersebut, sehingga siswanya harus bersesakan dalam 1 buah ruang kelas kecil dimaksimalkan untuk menampung sebanyak 60 siswa dalam satu kelas. Sempit memang, bergerak pun susah, tapi itu yang harus kami hadapi setiap hari.

Wednesday, November 7, 2012

Andai Aku Menjadi Ketua KPK

Korupsi bukan saja terjadi pada kalangan white-collar, tapi juga pada hal-hal kecil di kehidupan sehari-hari. Sedari kecil, pendidikan korupsi tidak secara eksplisit diajarkan di sekolah. Penanaman nilai moral anak-anak mengenai korupsi membantu membentuk watak mereka nantinya. Bayangkan jika sejak kecil seorang anak sudah pandai membohong mengenai nominal ribuan rupiah, hal ini dibawa terus hingga ia besar sehingga yang tadinya ribuan menjadi jutaan, ratusan juta, bahkan miliaran. 

KPK sebagai lembaga anti korupsi perlu diberikan otoritas penuh untuk menyelidiki segala bentuk perilaku korupsi di semua lembaga negara. Proses ini harus dihormati dan diapresiasi oleh setiap lembaga demi mewujudkan good corporate governance.

Sebagai Ketua KPK, program yang akan dilaksanakan :

  1. Roadshow ke sekolah. Sosialisasi mengenai korupsi perlu dilakukan mulai dari struktur organisasi terkecil, yaitu sekolah. Pengenalan korupsi perlu dimulai sejak dini, mengenai fungsi dan tugas KPK.
  2. Sosialisasi mengenai korupsi ke lembaga pemerintahan. Memutus mata rantai korupsi dilakukan dengan sosialisasi berkala mengenai korupsi dan ancaman jika korupsi.
  3. Memotong jalur birokrasi. Meminimalisir pejabat berwenang pemerintah untuk berinteraksi secara langsung dengan pengusaha yang memungkinkan terjadinya aliran dana korupsi.
  4. Melestarikan budaya malu. Pelaku korupsi sudah seharusnya merasakan malu jika melakukan korupsi, adanya hukuman sosial bagi pelaku korupsi akan membuat jera.
Tidak terlambat untuk merubah negara ini dan pemberantasan korupsi, pendekatan dengan generasi muda guna membentuk generasi muda tanpa korupsi harus dimulai sejak dini. 

Monday, October 22, 2012

Kenapa Harus CouchSurfing?



Perbincangan menarik ini terjadi antara saya dengan 2 orang traveler dari Slovenia dan Austria di sebuah kamar dormitory di Siam Reap. Sudah satu tahun lebih saya bergabung dengan CouchSurfing dan tidak pernah memikirkan hingga sejauh itu.

Selama ini, yang terlintas di benak dan pikiran saya adalah CouchSurfing hanyalah sebuah komunitas yang menghubungkan traveler dengan traveler lainnya. Nyatanya lebih jauh dari itu. Bagi mereka yang sering melakukan perjalanan lintas negara dan menggunakan CouchSurfing akan mudah memberikan jawaban jika diberikan pertanyaan seperti ini. CouchSurfing adalah nyawa kami saat traveling, itu yang dilontarkan oleh Eta Mijoc, seorang gadis Slovenia berumur 24 tahun. Saya hanya bisa merenungkan kata-katanya.

Memang CouchSurfing bukan hanya sebuah web ataupun komunitas online, tapi CouchSurfing nyata. Anggotanya saling berinteraksi satu dengan lainnya, tidak terbatas pada budaya, agama, ras, status sosial, dan juga daerah. CouchSurfing juga bukan hanya sekedar mencari akomodasi dan menyediakan akomodasi gratis bagi traveler, tapi lebih jauh, ada nilai yang dibawa dan terjadi pertukaran saat berinteraksi sesama anggota CouchSurfing.

CouchSurfer Ho Chi Minh
Karakter CouchSurfer tiap negara, bahkan tiap daerah berbeda-beda. Beberapa traveler yang pernah surfing di tempat saya mengatakan jika CouchSurfing di Indonesia sangat ramah dan aktif, berbeda dengan CouchSurfing di negara asalnya, dan interaksi yang terjadi antar anggota CouchSurfing di Indonesia cukup erat. Contohnya saat mereka tinggal di Jakarta, mereka menginap di rumah saya, saat mereka ke Bandung, saya referensikan kepada anggota CouchSurfing Bandung yang saya kenal, lalu saat pindah ke Yogyakarta, mereka mendapat referensi host dari anggota CouchSurfing Bandung, begitu seterusnya saat mereka pindah kota.
Georg dan Jakob
Milan dan Sarka dari Ceko
Milan membantu membuat lemper di kala Lebaran

Pengalaman menjadi host yang baik dengan tidak membeda-bedakan saat menerima tamu ternyata tidak menjamin saya akan mendapatkan hal sama saat di negara lain. Belum tentu saat mengirimkan CouchRequest akan diterima. Saya pernah mengirimkan lebih dari 10 CouchRequest saat saya mengunjungi Phuket, tapi tidak ada satupun yang merespon, baik itu masyarakat lokal ataupun expatriate yang tinggal di Phuket. Entah mungkin ada yang salah dengan CouchRequest saya, tapi hal ini bukan hanya sekali saya alami, sebelumnya di Vietnam dan Kamboja, saya pun mengirimkan CouchRequest namun tidak ada yang merespon. Ditolak berkali-kali tetap tidak menyurutkan saya terhadap komunitas ini. Saya yakin di belahan dunia lain, para CouchSurfer akan berbaik hati membukakan pintu rumahnya untuk saya.


Thursday, October 18, 2012

Menikmati Siam Reap dan Angkor Wat

Belum lama rasanya saya terlelap tidur, namun bunyi alarm dari hp cukup nyaring untuk membangunkan saya pagi itu. Sengaja, saya bangun pagi sekali, karena akan melihat sunrise di Angkor Wat yang (katanya) sangat mempesona.

Di depan hostel sudah berkumpul beberapa pengendara tuk-tuk yang menawarkan untuk mengantarkan keliling Angkor Wat, namun saya tolak, karena saya akan berkeliling dengan sepeda. Sepeda ontel yang saya sewa seharga USD 2 dari hostel mulai saya kayuh, kondisinya tidak bisa dibilang masih bagus, namun juga tidak jelek. Saya sudah cukup telat untuk melihat sunrise pikir saya, karena saya berangkat pukul 4.30 pagi dan saya belum tahu jarak dari Kota Siam Reap ke Angkor Wat berapa jauh.

Wednesday, October 17, 2012

CouchSurfing World

Saya ingat sekali, pertama berkenalan dengan komunitas ini medio Desember 2010, tidak ada keinginan untuk bergabung, apalagi harus terlibat di dalamnya. Pepatah yang mengatakan tidak kenal maka tidak sayang mungkin terjadi pada saya saat itu. 

Sebenarnya, apa itu CouchSurfing? Jika melihat namanya sekilas, langsung mengarahkan pandangan orang kepada olahraga surfing. Nyatanya, anggota CouchSurfing pun melakukan surfing, tapi dari sofa ke sofa di berbagai belahan dunia. CouchSurfing merupakan komunitas traveler global yang anggotanya menyediakan tempat tinggal sementara secara gratis bagi traveler yang berkunjung ke suatu daerah dan berfokus pada cultural exchange dan juga membangun networking services bagi para anggotanya  Dibuat istilah “couch” atau sofa bisa jadi karena secara umum, ruang yang disediakan untuk tidur bagi anggota CouchSurfing bisa jadi hanyalah sofa, bukan kamar, ataupun hanya ruangan kecil yang beralaskan matras.

Perkenalan resmi saya dengan CouchSurfing dimula ketika seorang teman dari Bandung datang menginap di rumah saya dan menceritakan apa itu CouchSurfing, ia baru saja menjadi anggotanya saat itu. Awal melihat web-nya cukup rumit, karena banyaknya yang harus diisi untuk melengkapi profil anggota CouchSurfing, perlu lebih dari 1 minggu bagi saya untuk melengkapi profil tersebut dan mengerti isi web CouchSurfing.

Pertemuan saya sesungguhnya dengan anggota komunitas CouchSurfing adalah pada gathering bulanan CouchSurfing Jakarta bulan Februari 2011 di Restoran Steak Lover dibilangan Kemang, Jakarta Selatan. Restoran berlantai dua ini dimiliki oleh salah seorang anggota CouchSurfing, Mba Nuri. Ia berbaik hati membiarkan restorannya “diacak-acak” untuk gathering CouchSurfing. Lebih dari 80 orang hadir pada gathering itu, CS Indonesia dan CS luar Indonesia (saya kurang suka menyebut lokal dan bule). Tema yang diusung pada gathering itu adalah Valentine Day, karena memang diadakan pada bulan Februari, sehingga dress code yang harus digunakan adalah baju merah/pink.

Pada bulan Juli 2012, gathering bulanan CouchSurfing Jakarta diadakan di rumah saya, bertepatan dengan bulan puasa, sehingga gathering sambil berbuka puasa. Menurut daftar hadir, lebih dari 100 orang hadir dalam gathering tersebut, cukup ramai.
Suasana gathering
Olympic games

Pulang dari gathering, saya merasa jika CouchSurfing berbeda dengan komunitas lainnya, bukan saya menganggap remeh komunitas lain, tapi saya merasa visi dan misi CouchSurfing sejalan dengan saya.  Yang paling menarik bagi saya dari CouchSurfing adalah adanya cultural exchange jika saya melakukan hosting dan surfing. Dengan membuka pintu rumah kita kepada traveler dari berbagai negara, memungkinkan terjadinya pertukaran kebudayaan, tanpa harus berkunjung terlebih dahulu ke negaranya.

Sebelum menjadi anggota CouchSurfing, pernah ada yang orang Belanda dan Jepang yang tinggal di rumah saya, pertemuan dengan mereka secara tidak sengaja sehingga akhirnya mereka bisa tinggal di rumah saya. Patrick, seorang berkebangasaan Jerman berusia 20 tahun menjadi tamu pertama kali saya sejak menjadi anggota CouchSurfing, ia berkeliling beberapa negara Asia selama 6 bulan. Dalam menerima tamu, saya tidak membedakan untuk CS Indonesia dan CS luar Indonesia, semua saya terima dengan baik. Beberapa saya tolak, karena mereka tidak membaca terlebih dahulu apa yang saya tulis di profile CouchSurfing saya. Membaca profil orang yang akan kita hosting ataupun kita akan surfing itu sangat penting. Oh ya, sebagai anggota CouchSurfing kita tidak selalu harus siap menerima tamu di rumah, bisa saja kita mengatur profil kita hanya untuk “Coffee & Drink”, yang artinya kita tidak bisa menerima tamu di rumah, tapi kita bisa bertemu untuk sekedar minum bersama anggota CouchSurfing lain.
Patrick
Bersama Maurice, Georg, dan Jakob di Bali

Saya biasanya tidak terlalu ketat pada jumlah hari para anggota CouchSurfing menginap di rumah saya, andaikata mereka nyaman dan saya juga nyaman, biasanya mereka bisa tinggal lebih dari 3 hari. Ada kakak beradik dari Jerman, Georg dan Jakob yang tinggal di rumah saya lebih dari 9 hari, beberapa tinggal selama 5 hari. Tamu saya yang paling aneh adalah Roma dan Dennis dari Rusia, saat pertama menulis CouchRequest kepada saya, mereka janji akan sampai di rumah saya pada pukul 5 sore, nyatanya hingga pukul 10 malam mereka belum juga datang, pada pukul 10.30 saya mendapat sms dari nomor Rusia jika mereka 5km dari rumah saya. Saat sampai di rumah, mereka bercerita jika mereka ingin hitch hike (menumpang) mobil dari Bandara Soekarno-Hatta, namun tidak ada mobil yang berhenti, sampai akhirnya ada mobil kedutaan Jerman yang memberikan mereka tumpangan hingga Bundaran HI, dan mereka jalan kaki dari Bundaran HI menuju Pasar Minggu, kurang lebih 20km dengan tas besarnya!

Selain hosting, saya juga mencoba untuk surfing saat traveling, surfing pertama saya adalah di tempat Michele, di Pulau Penang, Malaysia. Tidak terlalu mudah untuk menemukan anggota CouchSurfing yang mau diinapi, hal ini saya jumpai di Phuket, Thailand, saat saya mengirim lebih dari 10 CouchRequest, namun tidak ada satupun yang menanggapi, hingga akhirnya saya tinggal di hostel. Ya memang tidak selalu beruntung mendapatkan host yang mau menerima kita. Di Ho Chi Minh pun begitu, dari 7 CouchRequest yang saya kirim, tidak ada yang respon. Namun, saya melakukan city tour bersama beberapa CouchSurfer dari Ho Chi Minh.
City tour bersama CS di Ho Chi Minh

Selain hosting dan surfing, traveling bersama anggota CouchSurfing menjadi hal yang sangat menyenangkan, karena kami mempunyai hobi yang sama, yaitu traveling dengan berbiaya murah. Berbagai tempat di Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera sudah kami kunjungi bersama.
Traveling ke Krakatau
Gathering CS Jawa Tengah dan Yogya

CouchSurfing Indonesia mempunyai festival tahunan sejak tahun 2010, yang mana tahun sebelumnya dilaksanakan di Jakarta, tahun ini yang berkesempatan menjadi tuan rumah adalah Bali. Di CSI Festive ini biasanya banyak kegiatan yang melibatkan anggota CouchSurfing ataupun komunitas lain. Kegiatan yang dilaksanakan tahun lalu diantaranya hitch hiking race  dan Pecha Kucha.Tahun ini lebih banyak kegiatan, diantaranya ada bakti sosial yang menggandeng komunitas lainnya.

Saya merasa komunitas CouchSurfing ini membuka jendela dunia saya, untuk memperhatikan berbagai macam kebudayaan dunia dan karakter orang-orangnya.




My TripAdvisor